wanita baduy yang kuat

WANITA BADUY YANG KUAT

Hari masih sangat pagi ketika terdengar suara ayam berkokok yang saling bersautan di sudut-sudut rumah warga, udara di luar tentunya masih sangat dingin rasanya ingin sekali aku membenarkan selimutku yang terdesak kesudut tempat tidurku. Terdengar suara wanita yang batuk-batuk kecil keluar dari kamar tidurnya, bergegas ia masuk ke ruang parako (dapur) dan mengambil seeng alat memasak nasi khas orang sunda, selanjutnya ia pergi ke sungai untuk mencuci seeng tersebut karena memang semalam ia tidak sempat untuk mencucinya di karenakan ia sangat lelah setelah kemarin beraktifitas. Sesampainya di rumah ia mengambil kayu bakar yang sudah tersedia di samping rumah, craeck crek suara korek api di nyalakan pada kayu bakar yang sudah di pasang di bawah tungku. Segera seeng yang sudah diisi air dan beras yang sudah di cuci sebelumnya pun di taruh dia atas tungku tersebut, tak lama api menyala dengan panas nya.

Matahari masih belum juga menampakan dirinya sepertinya sang pagi masih ingi memeluk dingin nya malam di pedalaman suku baduy, tepatnya di kampung marengo baduy luar. Langit semakin terang ketika wanita tadi ternyata sudah selesai menjalankan kewajibanya sebagai seorang ibu yang harus menyiapkan makanan bagi keluarga kecilnya.
Hari ini wanita itu tidak berencana untuk pergi keladang di karenakan pekerjaan di ladang katanya sudah selesai hari kemarin, ia memilih untuk mengisi hari ini dengan beraktifitas di rumah saja yaitu menenun. Menenun biasa di lakukan ketika tidak ada pekerjaan lain di kebun atau ladang huma padi mereka “untuk menambah nambah” imbuhnya. Memang penghasilan dari menenun ini tidak seberapa, katanya “hanya cukup buat beli garam saja menambah penghasilan suami, lumayan” aktifitas menenun di lakukan di ruang sosoro atau rumah bagian depan yang sengaja di buat terbuka

Setiap rumah di baduy memiliki area SOSORO, Ruang sosoro ini berfungsi sebagai ruang untuk menerima tamu agar tamu bisa duduk-duduk dulu sebelum di persilahkan masuk kedalam, selain itu para ibu-ibu dan anak-anak biasa menggunakan SOSORO ini sebagai tempat untuk mengobrol dan bercanda gurau ketika di waktu senggang.

Untuk menghasilkan selembar kain tenun baduy dengan lebar 1 meter dan panjang 2 meter para penenun di baduy membutuhkan waktu 5 hingga 7 hari. Ketika di tanya pendapatan perhari dari hasil menenun ini berapa mereka menjawab “sekitar 10.000 hingga 20.000 saja” dengan prosesnya yang nyelimet nan rumit memang tidak heran jika aktifitas menenun belum bisa di jadikan tumpuan ekonomi di baduy, perlu adanya dukungan dari semua pihak agar
tenun baduy bisa jauh lebih di kenal di hargai dan di gunakan agar penenun di baduy bisa jauh lebih sejahtera.

Duduk seharian dengan seperangkat alat tenun di pangkuan tak ayal membuat pinggang menjadi pegal dan nyeri, terlebih tangan yang terus aktif mengangkat jinjingan dan memasukan benang satu persatu membuat lengan menjadi berat dan pegal, sangat membosankan menurutku. Tapi kecintaan wanita baduy dalam melestarikan warisan budaya ini sulit untuk di hapuskan meski pendapatan dari hasil menjual buah karyanya ini tidak seberapa.
Wanita di baduy layaknya seorang pahlawan yang begitu tegar.
Dengan kehidupan yang serba terbatas tak membuatnya merasa sulit untuk menjalani kehidupan sebagai seorang wanita baduy. Bahkan mereka tak mau berdiam diri dan hanya menunggu sang suami bekerja, mereka akan melakuka kerjaan apa saja yang sekiranya dapat membantu perekonomian keluarga, disisi kewajibanya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya.

MAU BELANJA KAIN TENUN BADUY

 

KLIK DISINI

 

BAGIKAN, SILAHKAN...

Tinggalkan Balasan