Oktober 26, 2019 Kehidupan bergotong royong di Baduy

Kehidupan bergotong royong di Baduy

Ada banyak cara yang di lakukan untuk menjaga kekompakan dan persatuan antar anggota masyarakat di tiap-tiap wilayah di tanah air. sejak ratusan tahun yang lalu sudah di lakukan oleh generasi terdahulu kita di setiap kali kesempatan.
Kelompok masyarakat yang begitu teguh dalam menjaga rasa peduli terhadap sesama saya rasa dapat saya temukan di kampung halamanku, bukan ingin memuji dan membesar-besarkan akan hal ini tapi dari beberapa hal yang saya perhatikan memang di sini kami sangat memperhatikan apa aktifitas tetangga, bilamana salasatu dari tetangga kami akan melalukan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan banyak tenaga maka itu pun menjadi tanggung jawab kami untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Ada beberapa kegiatan yang selalu di hadiri oleh hampir seluruh warga kampung untuk membantu mengerjakan nya di antara kegiatan-kegiatan tersebut adalah:

  • “Nyisib” Nyisib adalah kegiatan mengganti atap rumah yang sudah lapuk yang di mana kegiatan nyisib ini setidaknya membutuhkan sekitar 10 orang pria dan 5 perempuan agar pekerjaan ini dapat di lakukan. dalam hal mengganti atap rumah di suku baduy tidak perlu mengeluarkan biaya terlalu banyak, karena kegiatan seperti ini masuk kategori kegiatan gotong royong yang harus di kerjakan oleh banyak orang, setiap warga berkewajiban untuk membantu mengerjakan kegiatan ini karena ini berlaku kebalikan bilamana kita akan mengganti atap rumah ini maka tetangga kita pun akan membantu nya.
  • “Nangtungken imah”
    Ini adalah kegiatan mendirikan rumah warga Baduy yang biasa di dirikan pada bulan-bulan tertentu seperti di Bulan kalima, bulan Hapit kayu dan bulan Ngaseuk serang. Mendirikan Rumah ini tentunya membuat setiap anggota masyarakat kampung yang bersangkutan harus hadir dan ikut serta dalam kegiatan ini, disini kita bekerja sama dan bercanda gurau sekalian ajang untuk ngobrol dan lain sebagainya
  • “Ngala suluh”
    Ketika ada warga yang akan mengadakan syukuran atau selamatan baik itu “Sundatan”, “Peperan”, “Cukuran”, “Ngurenkeun” dan lain sebagainya maka ada kegiatan yang pasti membuat warga berkumpul untuk membantu “ngala suluh” atau mengambil kayu bakar di hutan, biasanya mengambil kayu bakar untuk hajatan ini dilakukan sekitar Sebulan sebelum acara berlangsung. kegiatan Ngala suluh ini membuat seluruh laki-laki dari kampung ini berduyun-duyun pergi ke hutan untuk segera mengambil kayu bakar. kayu yang di pilih tentu saja bukan asal kayu melainkan kayu-kayu yang sudah kering juga di pilih berdasarkan jenis nya tidak semua jenis kayu dapat di gunakan untuk kayu bakar apalagi ini untuk keperluan adat maka kayunya pun harus kayu yang bagus
Di-tag pada:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *